30/09/2014

MENGENAL MANDAR DALAM NADA

Berawal dari keinginan untuk ikut melestarikan budaya mandar dalam hal ini seni musik, kami mencoba untuk mengenalkannya pada remaja tingkat SMA/SMK. Sehingga terwujudlah sebuah kegiatan berupa kunjungan ke Uwake Cultural Foundation, pada hari Minggu, 28 September 2014.
Matahari belum terlalu jauh meninggalkan titik kulminasinya ketika roda mobil angkot (angkutan kota) carteran berputar dan membawa siswa-siswi yang tergabung dalam Sanggar teater Tattanga meninggalkan pekarangan SMK Soeparman Wonomulyo atau yang dahulu lebih dikenal dengan nama STM. Selama kurang lebih 45 menit ami hanya bisa membiarkan tubuh kami terbawa oleh mobil angkot berwarna biru itu menuju ke arah barat kota Wonomulyo. Setelah  melewati perkampungan padat penduduk, hamparan sawah dan tepian pantai pasir putih Palippis kami pun tiba di daerah yang akrab dengan seni dan budaya Mandar. Yah, Tinambung. Daerah yang banyak memiliki sanggar seni tradisional Mandar dan mungkin sebentar lagi akan berpisah dengan kabupaten Polman untuk kemudian berdiri sendiri menjadi kabupaten Balanipa.  Kami sengaja datang ke daerah ini untuk mengenal alat musik tradisional Mandar seperti yang disebut di awal. Dan di sekret Uwake inilah kami disambut ramah oleh Muhammad Rahmat Muchtar sang punggawa Uwake Cultural Foundation.
Di lantai atas dari sekertariat Uwake Cultural Foundation, Muhammad Rahmat Muchtar atau yang dikalangan seniman atau budayawan Mandar dikenal dengan nama Rahmat Panggung memberikan penjelasan tentang beberapa alat musik tradisional Mandar yang sudah berhasil teridentifikasi. Menurutnya selain alat musik yang ada di sekertariat Uwake sekarang, masih ada beberapa alat musik tradisional Mandar yang sudah punah karena tidak ada lagi yang bisa memainkan, salah satunya adalah gesoq. Pada kesempatan tersebut, beliau menjelaskan delapan alat musik tradisional yang masih eksis di kalangan masyarakat Mandar saat ini yaitu rebana atau rawana, calong, sattung, keke, gonggaq lawe, gonggaq lima, kecapi atau kacaping, serta gendang. Dan berikut kita kupas satu persatu seperti apa penjelasan beliau.

RAWANA/REBANA
Rawana adalah alat musik tabuh yang terdiri dari kayu yang dibuat berbentuk lingkaran dan berongga yang kemudian disalah satu sisinya ditutup dengan sehelai kulit kambing. Para pembuat rawana biasanya memilih kayu pohon nangka dengan alasan lebih mudah dibentuk (mungkin karena memiliki serat yang searah), sedangkan untuk membrannya digunakan kulit kambing betina dengan alasan kulit kambing betina lebih lentur daripada kulit kambing jantan sehingga bisa menghasilkan suara yang lebih bagus. Rawana biasanya dipentaskan secara berkelompok pada ritual pappatammaq (khataman) yang dirangkaikan dengan messawe sayyang pattuqduq (menunggang kuda penari) atau pesta perkawinan.

Salah seorang peserta menabuh rawana. 


GENDANG/GANRANG
Ganrang Mandar hampir mirip dengan gendang dari etnis Bugis atau makassar, yang membedakan adalah bentuk bodinya yang lebih ramping hingga jika nampak sekilas antara ujung yang satu dengan ujung yang lain sama besarnya. Ganrang dibuat dari sepotong batang kayu yang lingkarannya utuh kemudian dibagian tengahnya diberi rongga. Pada kedua ujungnya kemudian ditutup dengan sehelai membran dari kulit kambing betina dan disatukan menggunakan tali rotan yang sekaligus sebagai setelan. Fungsi ganrang biasa digunakan saat pementasan tarian ataupun pagelaran silat tradisional mandar.
Muhammad Rahmat Muchtar mengajarkan 
cara menabuh gendang.


CALONG
Calong adalah alat musik pukul yang khas dan sangat sederhana. Terbuat dari buah kelapa kering lalu dipotong dan isinya dikeruk untuk membuat ruang resonansi. Lalu empat buah bilah bambu kemudian diletakkan dibagian atas buah kelapa, dan untuk mendapat getaran yang menghasilkan nada, maka bilah bambu tadi dipukul dengan 2 kayu kecil. Pada awalnya, calong dimainkan hanya sekedar untuk mengisi waktu kosong para petani yang sedang menunggui kebunnya. Calong menghasilkan nada sesuai dengan tebal tipisnya bilah bambu yang terpasang, semakin tipis bilah bambunya maka semakin nyaring bunyinya demikian pula sebaliknya semakin tebal bilah bambunya maka semakin rendah nada yang dihasilkan. Sebelum menggunakan buah kelapa sebagai ruang resonansi, mulanya bilah bambu hanya diletakkan pada paha si pemain. Namun kemudian terus berkembang hingga menemui modelnya yang sekarang. Beberapa waktu sebelumnya, saya mendapat keterangan dari Papa Isa’ salah seorang penggiat seni dari Sanggar Sossorang, Tinambung bahwa idealnya bilah bambu yang digunakan adalah berasal dari jenis bambu betung atau pattung dalam bahasa mandar.
Perkembangan terakhir bahwa sekarang para seniman telah membuat calong yang sesuai dengan urutan solmisasi moderen dengan menggunakan dua buah kelapa yang direkatkan untuk mendapat ruang yang cukup untuk meletakkan delapan bilah bambu.
Peserta sedang memainkan calong.


SATTUNG
Sattung adalah alat musik berdawai seperti halnya kecapi, namun sattung terbuat dari bambu seutuhnya. Dan yang unik sebab sattung mempunyai empat dawai yang dibuat dari sembilu (kulit bambu)nya sendiri yang dicungkil dan dipisahkan dari daging bambunya, namun harus hati-hati dalam melakukannya sebab jangan sampai sembilu tersebut putus dan tidak bisa terpakai lagi. Sattung menggunakan rongga didalam ruas bambu sebagai ruang resonansi untuk menampung nada dari getaran dawainya. Lalu untuk mengatur nada yang keluar maka salah satu tangan pemain akan menutup dan membuka ujung lain bambu yang dibolongi.
Muhammad Rahmat Muchtar memperagakan 
cara memainkan sattung.


KEKE
Keke adalah sejenis alat musik tiup yang hampir mirip suara maupun bentuknya dengan pui-pui yang berasal dari etnis makassar, dan cara membunyikannya pun sama yaitu dengan cara ditiup. Keke dibuat dari bahan bambu dari varietas “taroqda” kecil yang kemudian di beri empat buah lubang mirip dengan seruling. Kemudian pada bagian ujung yang akan ditiup diberi semacam “lidah” yang akan menghasilkan getaran suara. Sementara pada ujung depannya diberi lilitan daun kelapa yang berfungsi untuk menambah besarnya suara yang dihasilkan. Bagian yang paling rentan mengalami kerusakan pada keke adalah bagian”lidah”nya, dan sempat Rahmat memberi tips cara merawat keke. Menurutnya, “lidah” keke jangan sampai terkena ludah yang akan membuatnya basah pada saat ditiup. Jika akan dipakai, dan “lidah” tersebut melengket hingga sulit untuk bunyi maka jangan diangkat dengan kuku tapi menggunakan seutas rambut dan harus dilakukan dengan hati-hati.

KECAPI/KACAPING.
Pada dasarnya banyak etnis yang mengenal alat musik kecapi ini seperti misalnya Bugis, Makassar, Sunda, Dayak maupun masyarakat Tionghoa. Namun kecapi mandar punya kekhasan tersendiri melalui bentuknya. Sebagai perbandingan, kecapi Bugis berukuran agak kecil sementara kecapi mandar lebih besar dan pada bagian ujungnya lebih lebar yang mana biasanya diberi hiasan berupa ukiran kembang melati atau beruq-beruq. Perbedaan selanjutnya juga terletak pada bagian pembentuk nada yang ditekan dengan ujung jari. Jika pada kecapi Bugis biasanya mempunyai enam tempat tindisan maka pada kecapi Mandar hanya punya empat tindisan.
Salah seorang peserta (lk) memegang kecapi.


GONGGAQ LIMA
Gonggaq lima juga terbuat dari bambu bulat yang kemudian dihilangkan sedikit bagian sisinya sehingga berbentuk mirip penjepit atau sipiq dalam bahasa Mandar atau mirip garpu tala yang berlengan dua. Untuk mengatur nada yang dihasilkan maka dibuatlah lubang dibagian bawah dimana terletak tangan dari orang yang memainkannya. Sehingga memudahkan pemain mengatur irama dengan cara menutup lubang kecil tadi dengan jempol dan telunjuk. Selain itu terdapat pula irisan yang menghubungkan antara bagian “lengan” gonggaq lima dengan lubang tadi. Dan untuk membunyikannya sangat mudah, cukup diadu dengan tangan yang satu sementara tangan yang lain memegang gonggaq lima.
Muhammad Rahmat Muchtar menunjukkan cara 
memainkan gonggaq lima


GONGGAQ LAWE
Alat musik ini terbuat dari pelepah pohon enau dan memiliki bentuk yang tipis dan sangat unik. Sesuai dengan namanya, untuk membunyikan alat musik ini kita harus menyentak-nyentakkan tali yang sengaja diikatkan di ujungnya dan menggunakan rongga mulut sebagai ruang resonansi sehingga saat dimainkan maka harus ditempelkan diantara kedua bibir. Sumpah, untuk sekedar membunyikan beberapa alat musik tadi, gonggaq lawe yang memiliki tingkat kesulitan tertinggi disusul dengan keke. Ada hal yang menarik dari gonggaq lawe yang sempat disampaikan oleh beliau bahwa dulunya gonggaq lawe juga biasa digunakan sebagai alat komunikasi antara seorang gadis dan seorang bujang yang dilanda asmara.


Beginilah cara memainkan gonggaq lawe.

Demikianlah sedikit bahasan tentang alat musik tradisional yang sempat diperkenalkan pada peserta kegiatan kunjungan yang bertajuk”MENGENAL MANDAR DALAM NADA”. Ucapan terima kasih kami sampaikan kepada Muhammad Rahmat Muchtar yang telah bersedia menerima, menjelaskan dan memberikan kesempatan kepada peserta untuk sedikit mengekplorasi alat-alat musik tersebut. Semoga dari kegiatan kemarin serta tulisan ini, bisa menjadi pecut yang memacu para remaja untuk lebih mengenal alat musik tradisional Mandar serta menggali kearifan lokal yang penuh dengan ajaran-ajaran moral yang agung.

27/08/2014

PELATIHAN EKOSISTEM MANGROVE YAYASAN KEHATI KERJASAMA YPMMD SUL-BAR



Isu pemanasan global masih menjadi bahan perbincangan yang hangat sampai saat ini, membuat beberapa aktifis terus bergiat melakukan penyelamatan lingkungan dengan berbagai cara.
Salah satunya Yayasan Keanekaragama Hayati (KEHATI) bekerja sama dengan Yayasan Pemuda Mitra Masyarakat (YPMMD) Sul-Bar melaksanakan kegiatan Pelatihan Ekosistem Mangrove yang dipusatkan di desa Binanga, kecamatan Sendana kabupaten Majene. Kegiatan dalam rangka Program Merajut Sabuk Hijau Pesisir Indonesia kali ini mengangkat tema Peningkatan Peran Pemuda Pada Restorasi Pada Kehidupan Pesisir Pantai mulai dibuka pada hari Jumat, 22 Agustus 2014 dan berakhir pada hari Minggu, 24 Agustus 2014. Melibatkan peserta dari berbagai komunitas pelajar dan pemuda salah satunya Komunitas Penggiat Budaya dan Wisata Mandar (KOMPA DANSA MANDAR) yang mengirim 4 orang anggotanya sebagai peserta pelatihan.




Dalam kegiatan ini, panitia penyelenggara menggunakan konsep ruangan dan lapangan dimana peserta menerima teori dan kemudian mempraktekkan apa yang didapatkannya langsung di pantai Baluno, lokasi yang menjadi garapan restorasi pantai  YPPMD Sulawesi Barat.

Hari pertama panitia penyelenggara memberikan tugas kepada peserta untuk mengidentifikasi sepuluh macam mangrove (pohon bakau) yang ada di pantai Baluno. Ini dimaksudkan untuk mengetahui sejauh mana para peserta mengenal berbagai macam varietas mangrove. Peserta dibagi menjadi lima kelompok dan dibawa menyusuri pantai Baluno untuk melakukan identifikasi beberapa macam mangrove melalui perbedaan daun, bunga dan buahnya dengan masing-masing kelompok didampingi oleh satu orang panitia. Dengan antusias, para peserta melakukan tugas sesuai petunjuk modul yang diberikan meski harus hati-hati melangkahkan kaki. Pasalnya pantai Baluno merupakan kawasan karang mati atau dalam istilahnya death coral reef, sehingga banyak terdapat karang-karang tajam yang meninggalkan luka yang cukup perih jika sempat menggores kaki. Lalu peserta diberikan kesempatan untuk mempresentasikan sejauh mana pengetahuannya tentang ciri dan perbedaan dari beberapa varietas mangrove yang mereka temui.

Pada hari kedua, para peserta mendapatkan materi pengetahuan tentang pembibitan mangrove dan pada siang harinya langsung berpraktek di lapangan melakukan pembibitan mulai dari pengisian polybag, pemilihan bakal bibit yang baik, hingga cara meletakkannya  pada polybag.
Dalam penyampaiannya, Aziil Anwar selaku Direktur program pada Yayasan Pemuda Mitra Masyarakat Desa (YPMMD) mengemukakan bahwa tujuan dari kegiatan ini agar nantinya para peserta bisa menjadi pelopor dalam pelestarian ekosistem mangrove dan restorasi pantai.
Pada hari yang sama, para peserta juga mendapatkan pelajaran bagaimana fungsi  keberadaan ekosistem mangrove dalam pencegahan global warming serta manfaatnya untuk masyarakat di sekitar ekosistem tersebut.

Dihari terakhir, setelah peserta mendapat penjelasan tentang tata cara penanaman bakau yang benar, para peserta diarahkan menuju ke tempat pembibitan untuk masing-masing mengambil bibit untuk kemudian dibawa ke lokasi penanaman dan terakhir ditanam sesuai dengan petunjuk yang telah diberikan fasilitator sebelumnya. Pada kegiatan kali ini, sekitar 200 pohon bibit mangrove ditanam dengan 5 varietas yang berbeda dari spesies Brugeira, Sonneratia dan Rizhopora.



Ita Nur Azizah atau akrab dipanggil Ita, salah seorang peserta dari Komunitas Pemuda Totolisi mengemukakan kesan-kesannya. “ Banyak hal tentang wawasan ekosistem mangrove dari pelatihan ini”, ungkapnya singkat.

Mangrove di pantai Baluno.

Menurut keterangan bapak Aziil Anwar yang merupakan pioneer penyelamat lingkungan pantai Baluno,  salah satu dari sepuluh orang dari seluruh Indonesia sebagai penerima penghargaan Satya Lancana untuk bidang lingkungan hidup dari wakil presiden Boediono saat peringatan Hari Cinta Puspa dan Satwa Nasional 2013 (HCPSN 2013). Penanaman mangrove di pantai Baluno dimulai pada tahun 1989, dimana kondisi hutan mangrove di tempat itu sudah kritis akibat dari eksploitasi warga sekitar. Namun setelah kurang lebih 30 tahun, saat ini kondisi mangrove di pantai tersebut sudah kembali lebat dan mulai ada penambahan luas daratan pantai. Dari lebih 200 jenis  pohon mangrove, di pantai Baluno saat ini terdapat sekitar 40 jenis dan spesies pohon mangrove, beberapa diantara belum teridentifikasi. Beberapa spesies makhluk hidup daerah pantai  yang sebelumnya tidak ada pun mulai banyak seperti ikan, udang, kepiting dan beberapa jenis burung. Ini tentu akan membawa keuntungan tersendiri bagi warga sekitar.

Menanam mangrove tidak dilakukan sembarangan, harus diperhatikan cara menanam yang benar, kondisi pantai dan cuaca. Demikian juga dengan memelihara mangrove dibutuhkan perhatian khusus, minimal hingga tanaman kecil tersebut melewati masa kritis yakni berumur 2-3 tahun setelah masa tanam. Mangrove yang masih kecil mempunyai beberapa hama diantaranya tiram yang sering menempel dan melukai batang pohon, padahal meskipun merupakan tumbuhan pantai namun jaringan di dalam batang mangrove kecil tidak boleh dimasuki air laut. Jika itu terjadi, pohon mangrove yang masih kecil tersebut akan mati.  Belum lagi sampah plastik yang sering terbawa air pasang, terkadang tersangkut dan membelit batang atau cabang pohon hingga menghambat pertumbuhannya. Olehnya itu, tanaman mangrove kecil ini harus rutin dibersihkan agar dapat tumbuh secara normal.



“diharapkan nantinya setelah mengikuti pelatihan ini, para peserta dapat memberikan penjelasan tentang pentingnya ekosistem bakau pada masyarakat di sekitar tempat tinggalnya, syukur-syukur bisa menjadi pioneer pelestari hutan bakau Indonesia, khususnya di Sulawesi Barat” kata beliau, menutup penjelasannya.  

ANAK-ANAK HARAM SANG ZAMAN


Lahir dari rahim seorang ibu yang bernama pertiwi
Dibesarkan oleh ayah yang bernama sejarah
Disusui oleh kebudayaan
Berpencaran engkau bagai mencit yang mencericit
Berbulan tahun engkau nikmati saripati tradisi
Hingga kokoh kuat tubuhmu
Kini engkau gagah dalam balutan busana necis
Goyangkan kaki di balik meja
Angkuh kau kalungkan di lehermu
Sombong kau sematkan di dadamu
Kau perkosa ibu pertiwimu hingga melarat
Engkau sodomi ayah sejarahmu hingga sekarat
Kau bantai tradisi yang mulia sarat ajaran
Jadilah dirimu kanibal atas nama uang
Dan kami hanya bisa merintih melihat tingkahmu
Berharap kebenaran segera tiba


Matakali, 220814

15/05/2014

BOKAQ DI MANDAR

Tulisan ini terinspirasi dari postingan poto seorang teman di sosial media facebook yang menampilkan onggokan butiran kelapa biji yang sabutnya telah dikupas. Sulawesi Barat memang salah satu provinsi yang masuk dalam jajaran teratas penghasil kopra dan terkenal sejak jaman Belanda, memiliki jumlah pohon kelapa yang melimpah dan bisa didapati mulai dari daerah pegunungan hingga ke daerah pesisir. 
Waktu panen buah kelapa menggunakan sistem catur wulan, artinya buah kelapa dapat dipanen setiap 4 bulan sekali sepanjang tahun.

Dari gunung hingga pantai selalu ada pohon kelapa sejauh mata memandang.
(dok. kpbwm)


Penulis dan teman-teman dari KPBWM sedang menikmati segarnya kelapa muda.
(dok. kpbwm)


Jangan bingung jika mendengar kata bokaq di Mandar tidak sama dengan pengertian bokaq pada suku Bugis khususnya Bugis Wajo untuk menyebut minyak kelapa. Di  Mandar, bokaq dipakai untuk menyebut kopra. Kopra adalah hasil perkebunan yang dihasilkan dari buah kelapa yang telah dikeringkan hingga mencapai kadar air tertentu. 

Untuk mendapatkan hasil kopra, ada dua cara dan akan kita bahas sesuai dengan pengalaman penulis yang sudah belajar membuat kopra sejak kelas 2 SMP J.
Cara pertama adalah dengan metode pengasapan. Pada tahapan ini, mula-mula buah kelapa yang telah dikumpulkan dikupas sabutnya dengan menggunakan sula atau dalam bahasa Mandar disebut passukke. 

Passukke atau Sula
(foto searching internet)


Membaca kata sula, mungkin pikiran anda dan fikiran saya akan terbersit sebuah nama pulau. Benar, Sulawesi. Entah kebetulan atau kebenaran, nama Sulawesi (sula=sula, wesi =besi. Menurut KBBI) disematkan pada pulau yang warganya paling banyak menggunakan alat sula, mungkin ini tugas dari para antropolog untuk mencari awal mula penamaan Sulawesi yang belum kunjung disepakati. 

By the way, on the way, bus way, kita kembali ke topik tentang bokaq J. Harap berhati-hati jika anda adalah seorang pemula, sebab tidak jarang dalam proses massukke ini bagian lengan akan penuh luka goresan begitu pula bagian telapak tangan biasanya akan lecet dan berisi cairan. Belum lagi kemungkinan mata sula akan menembus perut jika kita tidak waspada. Dalam kacamata penulis, dari sekian tahapan pembuatan kopra proses massukke inilah yang paling berat. Dalam sehari, penulis biasanya hanya mampu mengupas kelapa maksimal 800 butir padahal teman-teman kerja penulis bisa mencapai 1000 butir/hari.

Proses mengupas kelapa dengan sula
(foto searching internet)

Setelah kelapa-kelapa tersebut dikupas, kemudian dipotong dua. Ingat yah, kelapanya dipotong bukan dibelah J. Lalu disusun di atas pengasapan (paqbokangan) dengan bagian daging menghadap ke bawah. Kelapa ini disusun sampai beberapa lapis, tp idealnya sih cukup 8-10 lapis saja biar panas api tembus hingga ke atas. Soalnya jika terlalu tebal lapisannya, biasanya yang di bagian atas masih segar sementara bagian bawah sudah hangus.
Setelah tersusun rapi, masukkan bahan bakar yang biasanya diambil dari sabut kelapa yang sudah dikupas tadi, ke bagian kolong paqbokang dan mulai lah menyalakan api di beberapa sudut lantai bawah paqbokangan ini dimaksudkan agar api cepat menyebar rata hingga ke bagian tengah area pembakaran. 


Cara menyusun kelapa yang diasapi
(foto searching internet)


Dalam tahap ini, pekerja sudah boleh agak santai namun kewaspadaan harus benar-benar disiagakan sebab tidak jarang angin akan menerbangkan bara yang selanjutnya hinggap pada sisa sabut yang masih melekat pada tempurung kelapa dan selanjutnya akan membuat kelapa di atas paqbokang akan ikut terbakar. Beberapa kali penulis mengalami kejadian seperti ini, dan benar-benar merepotkan mengatasi jika kelapa yang diasapi sudah sempat terbakar. Sehingga senantiasa perlu disiapkan alat penyemprot air pada tahapan ini. Dan pada tahapan ini juga, kita bisa melihat kondisi asap di bagian teratas dari lapisan kelapa yang disusun sebagai pertanda. 
Jika asapnya hitam, maka biasanya semua masih terkendali. Itu pertanda jika kandungan air pada kelapa sudah mulai keluar. Jika asapnya bening dan hanya berupa fatamorgana, maka biasanya kadar air pada daging kelapa sudah tinggal sedikit. Namun jika keadaan asap berwarna putih, maka itu pertanda bahwa adanya kebakaran di antara lapisan kelapa-kelapa itu dan biasanya sudah mulai gawat.

Setelah diasapi 6 – 8 jam, api kemudian dibiarkan padam dan kelapa dibiarkan menjadi dingin. Setelah kelapa agak dingin, kita masuk ditahap selanjutnya yaitu massisi atau mencungkil daging buah kelapa dari tempurungnya dengan menggunakan sebuah alat khusus yang dinamakan passisi. Inilah sebenarnya tujuan utama dari pengasapan awal ini, agar daging buah kelapa layu dan mudah disisi. Setelah itu kelapa yang kini tinggal dagingnya kembali disusun rapi untuk selanjutnya kembali diasapi untuk proses pematangan/pengeringan akhir. 

Massisi untuk mencungkil daging kelapa dari tempurungnya.
(foto searching internet)

Setelah diasapi kembali 6-8 jam, dan daging kelapa sudah kering yang ditandai dengan warna daging kelapa berubah menjadi bening dan berminyak, buah kelapa kemudian didinginkan dan dimasukkan ke dalam karung. 
Dalam proses packing ini, biasanya petani menumbuk kopra di dalam karung dengan tujuan agar karungnya padat. Ini untuk mensiasati banyaknya karung yang digunakan, agar terhindar dari pemotongan timbangan yang dilakukan para pedagang. Terakhir yang penulis dapati para pedagang melakukan pemotongan 1 kg./karung.
Kopra yang telah diasapi
(foto searching internet)

Cara pengeringan yang kedua adalah dengan menggunakan sinar matahari. Pengeringan dengan proses ini relatif aman, sebab tidak lagi mengkhawatirkan masalah api dan hasil koprapun bersih. Namun dengan proses ini membutuhkan waktu lebih lama sebab untuk proses pengeringannya saja butuh waktu 3-5 hari tergantung dari teriknya sinar matahari. Dan tentu saja sulit dilakukan pada musim penghujan. Selain itu diperlukan pula area pengeringan yang lebih luas, umpamanya saja untuk mengeringkan 600 butir kelapa dibutuhkan lapangan dengan ukuran 35 m2, sementara dengan metode pengasapan untuk 3000 butir kelapa cukup dengan paqbokangan berukuran 10m2.

Pembuatan kopra dengan sistem jemur
(foto searching internet)

Demikianlah proses pembuatan kopra dari awal hingga akhir, sebelum kemudian dimasukkan ke pabrik untuk diolah lebih lanjut menjadi bahan kosmetik maupun bahan pangan atau bahan bakar. Semoga dengan mengetahui proses pembuatan kopra yang membutuhkan waktu dan tenaga yang luar biasa dari petani dan buruh tani bisa menghadirkan kesadaran pada diri kita untuk lebih menghargai petani. Demikian juga pemerintah agar kiranya mulai dapat memikirkan kebijakan-kebijakan yang berfihak pada petani kita. PETANIKU PAHLAWANKU........

Penulis saat membuat kopra. Nampak onggokan kelapa di belakang (sudut kiri bawah)
(dok. pribadi)

14/05/2014

PETAKA CINTA I PUTUWUNGA MASAGALA

Berjalan dengan perasaan berkecamuk antara segan, malu, kekhawatiran  dan rasa kesetia kawanan, terpaksa kulangkahkan juga kaki ini menuju rumah I Putuwunga Masagala.
Yah, pemuda mana di kampung ini yang tidak mengenal I Putuwunga Masagala?. Pemuda mana yang birahinya tidak terbakar dan melayang dengan fantasi liar melihat seorang gadis berparas cantik, bertubuh denok dengan tinggi semampai yang dari pinggulnya menggambarkan seorang wanita yang akan memberikan keturunan yang banyak seperti potongan I Putuwunga Masagala. 
Setidaknya dari sisi fisik, potongan wanita demikianlah yang disarankan ayahku pada suatu malam padaku jika aku hendak mencari pasangan hidup. Namun kali ini, aku menuju kerumahnya bukanlah untuk diriku namun untuk seorang teman yang rupanya juga memendam rasa padanya.

Dan karena kedekatanku dengan kedua orang tuanya yang memang masih famili dekat denganku, membuat sahabatku itu mempercayakan padaku untuk “missisi” dengan tujuan mengetahui tanggapan keluarga sang gadis jika seumpama keluarga sahabatku itu nantinya datang melamar.
Namun satu-satunya hal yang membuatku khawatir adalah jika ternyata keluarga I Putuwunga nantinya memberikan isyarat  penolakan.

Singkat cerita, kekhawatiranku terbukti. Keluarga gadis manis bertubuh denok itu dengan halus menyampaikan isyarat penolakannya.
Halus??. Bisa jadi halus bagi orang lain, tapi tidak bagi lelaki yang mengutusku.
Dengan menahan pedih dan mata menyala, ia mendengar penuturanku dalam diam. Aku berusaha menghiburnya namun ia tetap bergeming dalam lamunannya. Pun ia tetap acuh tak acuh ketika aku pamit untuk pulang.

Dan hal yang tidak pernah aku sangka adalah akibat dari penolakan itu, ternyata kelak berbuah duka bagi kedua keluarga. Rupanya diam-diam sahabatku itu merasa terhina dan menyimpan dendam untuk membalas penghinaan itu.

Dua purnama berselang kejadian “messisi” yang gagal itu, aku mulai jarang bertemu dengan sahabatku itu. Aku hanya pernah bertemu secara kebetulan di atas puncak sebuah bukit saat aku hendak mencari kayu bakar, di mana ia hanya memandang kosong nun jauh kearah passauang pitu, begitulah nama yang diberikan oleh orang sekitar kampung pada mata air yang muncul secara alami di kaki bukit itu.
Dengan perlahan dan hampir tanpa suara, kududuk disampingnya dan mecoba mensejajarkan pandangan kami, dan kudapati obyek yang menjadi paku retina matanya.
Jauh di kaki bukit, di tepi salah satu mata air passauang pitu nampak bayangan seseorang yang sedang mandi, sesekali terlindung oleh dedaunan yang bergoyang oleh hembusan angin. Siapa lagi orang itu kalau bukan I Putuwunga Masagala, gadis molek berpinggul subur yang menghancurkan dunia sahabat di sampingku ini.

Dengan sangat perlahan kutoleh wajah sahabatku, dan aku mulai sadar jika aku telah kehilangan sesosok wajah ceria dengan sorot mata penuh semangat, yang kudapati di antara struktur kulit, daging dan tulang itu hanyalah kesan sebuah batu cadas yang keras dan dingin.
Namun binar matanya yang membuat hatiku berdegup kencang, ada pijar dendam yang begitu kuat memancar dari kedua bola lunak di dalam rongga wajahnya itu menggantikan cahaya rindu yang dulu selalu memancar saat nama sang gadis singgah di gendang telinganya.

Aku hanya duduk diam dan membiarkan sahabatku yang sukmanya sedang bercumbu dengan bayangan sang gadis pujaan. Hingga kemudian akhirnya aku letih sendiri menunggu ia mencapai orgasme yang aku pun tak tau kapan tibanya, letih itu pula yang membuatku lalu pergi dalam diam seperti tadi bagaimana aku datang dalam kesunyian. Kulangkahkan kakiku dengan sangat perlahan di antara padang ilalang yang menjadi permadani bukit itu, membawa setumpuk beban kayu bakar di bahuku dan seonggok tanya dalam dadaku tentang akhir dari semua ini.

Hampir saja aku terjungkal dari tempat tidur, saat satu teriakan murka menggelegar,  serta merta datang membangunkan dan merenggut paksa alam bawah sadarku yang sedang berasyik masyuk dengan bidadari alam mimpiku. Dengan bara api yang membakar isi dadaku, tergesa kulangkahkan kakiku keluar dan bermaksud mencari siapa yang telah mengganggu tidurku hingga membuat orgasme mimpiku tertangguh dengan menyakitkan, untuk memberinya sekedar peringatan.

Namun saat tiba di halaman, aku hanya bisa berdiri mematung, kemarahanku menjadi hilang seketika saat aku tahu siapa yang berteriak. Nampak di tengah jalan seorang lelaki dengan “sokkoq biring” yang sekarang tanpa disadarinya telah benar-benar miring di kepalanya.
Dengan wajah kelam penuh amarah dan tangannya yang gemetar menghunus-hunuskan keris yang meski bilahnya hanya nampak sekilas karena tidak hentinya bergoyang, namun aku tau jika keris itu keris pusaka nan bertuah. Itulah keris pusaka yang bernama I Rete Pitu. Meski namanya tak setenar keris Empu Gandring di tangan Ken Arok dalam cerita yang pernah dituturkan kakekku dulu sepulangnya dari tanah Jawa. Tapi siapa orang di serata Pitu Babbana Binanga yang tidak mengenal keampuhan keris I Rete Pitu yang bisa membuat seorang manusia langsung bertemu dengan Sang Pencipta cukup hanya dengan goresan kecil di kulit korbannya, keris yang dengan setia menemani tuannya yang kini ada di depanku saat meluluh lantakkan kerajaan Passokkorang bersama Tomepayung Sang Maraqdia dari Balanipa?. Sebilah keris pusaka hasil karya “pande” ternama dan dibuat dengan segala rupa laku ritual mulai saat pemilihan besi  hingga kemudian pertama kali diselipkan di pinggang Puang ta I Ullung Allo yang saat ini masih berdiri di tengah jalan mencari dan meneriakkan nama sahabatku keseantero kampung kami.

Aku hanya bisa tergagap menjawab tidak tau, ketika ia melangkah mendekat kehadapanku dengan sorot mata merah seolah ada percikan api keluar dari mata itu dan lalu bertanya dengan suara yang berat tentang keberadaan lelaki sahabatku yang rupanya telah menyulut gelora murka di dadanya. Syukurlah karena kemarahannya kemudian tidak dilampiaskan kepadaku, padahal lututku sudah gemetar dan mataku tidak lepas dari keris dalam genggamannya seolah-olah keris itu sesaat lagi akan menancap di antara tulang dadaku atau mungkin keris itu akan bersarang mulus di perutku. Kuhembuskan nafas lega sekuat-kuatnya untuk menenangkan gemuruh ketakutan di dadaku ketika sekonyong-konyong puang ta I Ullung Allo berbalik dan meninggalkanku. Untung karena ia tidak semakin marah atas jawaban ketidak tahuanku, atau mungkin juga keris pusakanya tidak berminat untuk sekedar mencicipi setetes darah dari tubuhku.

Sebelum ia berjalan semakin jauh, tiba-tiba terbit ingatanku akan keselamatan sahabatku. Naluriku mengatakan akan terjadi sesuatu yang mengerikan jika sekiranya sahabatku berhasil ditemukan olehnya. Dan kemudian diam-diam aku mengikuti langkah tergesa dari pamanku I Ullung Allo.

# bersambung.........

13/04/2014

CELEBES

SULAWESI atau CELEBES, terserah anda mau menyebutnya.... tapi inilah pulau tempat aku lahir dan merasakan nikmatnya alam subur dan indah. Setiap malamku dibuai dengan pesan leluhur yang menyejukkan dan menguatkan jiwa dan semangat ku sebagai anak celebes.....


11/04/2014

EKSOTISME MAKAM TOMAKAKA ALLUNG Part II


Seorang kawan penulis sedang berpose
disamping makam.

Maka tersebutlah sepasang suami istri yang tidak diketahui namanya namun diyakini berasal dari tanah Bugis hendak mengunjungi saudaranya di Mandar (entah di mana daerah di mandar yang dimaksud) pun tidak diketahui tahun berapa waktu kedatangan mereka, setelah menempuh perjalanan tibalah mereka di daerah yang sekarang bernama Bunga-Bunga (masih termasuk dalam kecamatan Matakali). Disanalah mereka bertempat untuk sementara waktu sambil beristirahat, namun tidak lama kemudian salah satu dari suami istri itu meninggal dan oleh orang bunga-bunga dimakamkan di Allung. Dan karena peristiwa tersebut sehingga pasangannya yang masih hidup terpaksa tinggal dan tidak lagi melanjutkan perjalanan sebagaimana maksudnya semula hingga kemudian meninggal pula di tempat itu. Menurut keterangan pak Salim, dahulu kedua makam tersebut disimpan jauh di dalam goa, namun kemudian dikeluarkan diposisinya saat ini yaitu di mulut goa. Ada dugaan jika mereka berdua berasal dari keluarga bangsawan, sebab masih menurut pak Salim, ketika mereka datang, mereka memiliki perhiasan lengkap mulai dari cincin, gelang, anting dan sebagainya sehingga saking banyaknya perhiasan yang mereka miliki sehingga tempat itu penuh warna-warni mirip dengan taman bunga, maka disebutlah tempat itu dengan Bunga-Bunga.

Konon kabarnya saat baru dipindahkan dari dalam goa ke mulut goa, batu yang ada dibagian atas belum selebar saat ini. Dahulu, saat hujan turun maka sebagian makam ini akan basah namun kemudian setelah sekian waktu. Batu yang ada di bagian atas goa tersebut tumbuh melebar dan menaungi makam hingga saat ini jika hujan maka kedua makam tersebut tetap kering.

Mitos lainnya adalah dahulu jika ada orang yang membutuhkan piring dan peralatan makan lainnya untuk hajatan maka yang bersangkutan biasa datang ke makam itu untuk “meminjam” barang yang dimaksud dan melakukan ritual tertentu. Konon jika permohonan peminjaman disetujui maka pada malam harinya barang yang dimaksud akan muncul di samping makam sehingga yang punya hajatan bisa datang keesokan harinya untuk mengambil dan harus mengembalikan saat barang tersebut sudah tidak dipakai lagi, tentu dengan membawa sesajen sebagai tanda terima kasih. Namun kemudian ada beberapa pemilik hajatan yang tidak mengembalikan barang pinjaman, maka saat ini “si empunya” tidak lagi mau meminjamkan jika ada yang melakukan ritual untuk meminjam peralatan makan.

Satu lagi mitos tentang makam Tomakaka Allung adalah, konon bahan pembuatan makam tersebut  adalah batang pohon kayu “sinaguri”. Sinaguri adalah sejenis tanaman perdu dengan tinggi 50 Cm.-100 Cm., bercabang banyak, kulit batang agak kemerahan, berkayu relatif keras dan memiliki bulu halus pada daunnya, biasanya tumbuhan ini terdapat dikebun-kebun atau daerah stepa. Sebelum mendapat kutukan, konon tumbuhan ini adalah pohon kayu yang besar dan kuat hingga sering digunakan untuk bahan pembuatan rumah. Mitos tentang pohon ini dapat juga kita temui dalam sejarah berdirinya mesjid tua Palopo, dengan nama kayu cinaguri.

Penulis sedang mencatat penuturan
narasumber tentang makam Tomakaka Allung.


Kondisi makam saat ini.
Kondisi terakhir dari makam Tomakaka Allung saat kami berkunjung relatif masih cukup baik, meski lantai disalah satu ujung makam sudah berlubang cukup besar karena sudah lapuk dan membuat kita bisa melihat kebagian dalam makam. Makam Tomakaka Allung adalah sistem pemakaman dengan menggunakan peti kayu sebagai wadah makam, ini sangat mirip dengan sistem pemakaman yang ada di Tanah Toraya yang dipercaya sebagai peninggalan zaman megalitik. Makam senantiasa dalam kondisi kering meski hujan deras, dinding kiri dan kanan adalah batu demikian juga bagian atas terlindungi batu yang cukup unik sebab menyerupai atap seolah-olah memang dibuat khusus untuk menaungi makam. Ada dua makam di tempat ini, makam pertama yang diyakini sebagai sang suami memiliki ukuran panjang kira-kira 2,5 meter, lebar 0,5 meter dan tinggi 0,5 meter. Sedangkan pada makam kedua berukuran panjang kira-kira 2 meter, sedangkan lebar dan tingginya sama dengan makam yang pertama. Di samping makam terdapat pendupaan yang menandakan jika sering ada orang yang datang kesana untuk berdo’a atau meminta. Hal ini juga ditegaskan dengan banyaknya ikatan tali rafia disisi makam yang menurut pak Salim diikatkan oleh mereka yang datang bernazar.
Saat kedatangan kami, juga terlihat jika kain kafan yang menutp makam masih dalam kondisi baru. Ini diakui oleh sumber kami yang katanya beberapa minggu sebelum kedatangan kami, ada satu rombongan keluarga dari daerah Barru (Sulawesi Selatan) yang datang ke lokasi itu untuk melepas nazar dengan memotong seekor kerbau hitam.

Perpisahan.
Ada rasa kecewa dan prihatin atas perilaku mereka yang sering datang ke tempat ini dengan maksud untuk meminta-minta. Bukankah mereka yang dimakamkan di tempat ini adalah mahluk, sementara tempat kita meminta seharusnya adalah Sang Khalik yang telah menciptakan segenap makhluk yang ada di bumi. Ditambah lagi mereka yang dimakamkan di sini belum diketahui dengan jelas agama dan keyakinannya bahkan sangat kuat dugaan jika mereka bukanlah muslim sementara yang datang untuk bernazar dan meminta hampir semua adalah muslim. Tentu ini adalah sesuatu yang bisa berbahaya jika ditinjau dari sisi aqidah sebagai seorang muslim, belum lagi upaya mengikatkan tali rafia ditepi makam yang tentu saja mengganggu pemandangan. Seyogyanya sebuah tempat bersejarah bisa dijadikan sebagai pengingat dan pembelajaran, bukan justru menjadi tempat pemujaan. Namun itu kembali lagi kepada prinsip diri kita masing-masing.
Selain kisah tentang Tomakaka Allung, kami juga mendapat bonus dari penuturan pak Salim berupa kisah asal usul nama daerah yang ada disekitar desa Patampanua itu, seperti misalnya Buttu Lamba yang konon menurutnya ada seorang wanita yang mempunyai dua orang suami. Rumah kedua suaminya itu berjauhan sehingga mengharuskan wanita itu berjalan jauh dari rumah suami yang satu ke rumah suaminya yang lain hingga akhirnya bukit yang sering dilalui wanita itu dinamakan Buttu Lamba (Buttu=gunung/bukit. Lamba = (ber) jalan).
Ada juga cerita tentang Tabone. Menurut cerita tutur yang disampaikan pada kami bahwa dahulu ada orang dari Bone (Sulawesi Selatan) yang datang dan membuka daerah itu untuk dijadikan kebun dan oleh masyarakat sekitar orang dari Bone tadi dipanggil dengan nama Ta Bone. Setelah beberapa waktu, maka dinamakanlah tempat itu dengan Tabone. Ketika saya tinggal di Tapango pada era tahun 90an, saya masih sering mendapat orang yang di depan namanya diberi awalan Ta, namun saya tidak tau apakah hal ini merujuk pada kata “tau” yang berarti orang. Contohnya orang yang saya dapati kala itu bernama Ta Kataq, Ta Kunding, Ta Sida, Ta Ridang, dll.
Sebenarnya rasa penasaran kami belumlah terjawab tuntas tentang sejarah keberadaan makam Tomakaka Allung ini, namun apalah daya kondisi hujan deras sementara tempat bernaung di sisi makam tidak sanggup menampung kami semua sehingga beberapa teman terpaksa berbasah-basah. Ditambah lagi dengan pengetahuan sumber kami yang diakuinya sangat terbatas sebab hanya berasal dari cerita tutur yang kemudian kembali ia tuturkan pada kami. Sehingga begitu sang hujan sedikit reda dan memberi kesempatan untuk pulang maka kamipun meninggalkan situs makam Tomakaka Allung.
Menjejakkan kaki di pelataran sempit tingkat bawah, aura mistis yang sempat menyapa saya saat pertama tiba kembali menyergap namun kali ini rasanya seolah ada tatapan mata yang melepas kepergian saya dan teman-teman. Mungkin saja “sang pemilik mata” ingin mengucapkan selamat jalan, dan dalam hatipun saya mengucapkan selamat jalan pula padanya. Saya dan teman-teman berpisah setelah mengantarkan kembali pak Muhammad Salim ke rumah anak beliau. Dan di bawah langit yang sudah tidak lagi meneteskan air hujan, kupacu si Beti (motor Beat matik) yang menjadi tungganganku untuk kembali ke rumah mencari sedikit hangat dari segelas kopi panas buatan sang istri yang tentunya sudah menanti kepulanganku.


Tumpiling, 100414. Saat hawa pemilu masih terasa hangat.

Berpose, penulis bersama para sahabat
KOMPA DANSA MANDAR dan Narasumber

SELEKSI IKRA INDONESIA KEMBALI DIGELAR, KOPI CAP MARADDIA MAJU JADI PESERTA

Pembukaan Seleksi Ikra Indonesia 27/2/2024 Kopi kita boleh beda, tapi Indonesia kita tetap satu. Sebuah kalimat pembuka yang aku ucap saat m...